Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Sunday, October 14, 2018

Belilah Sesuatu Di Saat Kamu Mampu Bukan Di Saat Kamu Mau




Belilah sesuatu di saat kamu mampu bukan saat kamu mau.
Gaya hidup yang dipaksakan bisa berujung pada hutang yang memberatkan.
Tahukah kamu perbedaan keren dan kere cuma satu, yaitu huruf n, artinya ngutang.

Jangan malu terlihat sederhana, tetapi malulah saat kamu pura-pura kaya.

Sunday, January 25, 2015

BELAJAR SOSOK IMAM KELUARGA DARI SEORANG BAMBANG WIDJOYANTO

Kemarin sampai pagi ini kita dikejutkan oleh berita heboh tertangkapnya seorang wakil ketua KPK oleh tim dari Bareskrim Mabes Polri saat mengantar anaknya sekolah.

Saya tidak tertarik membahas sisi politiknya, karena politik itu berkaitan dg kepentingan, bukan lagi urusan benar dan salah.

Dalam kasus ini saya justru tertarik dari sisi parenting. Ada message Allah yang dititipkan lewat kasus ini, yaitu kita diminta melihat bagaimana seorang sosok ayah mendidik anaknya.

Mari kita cermati bersama
a. Pak Bambang ditangkap saat mengantar anaknya yg keempat sekolah,  masih usia SD, ditemani anak ketiganya yg mau kuliah.  Berita terkait hal ini bisa dilihat di

http://m.detik.com/news/read/2015/01/23/093417/2811613/10/bareskrim-tangkap-wakil-ketua-kpk-bambang-widjojanto

Learning point : sesibuk apapun seorang ayah tidak akan melewatkan moment penting yg akan dikenang anak sampai besar. Salah satunya adalah perbincangan di mobil selama perjalanan ke sekolah.

b. Pak Bambang saat ditangkap dan "diborgol"oleh pihak bareskrim disaksikan dari awal hingga akhir oleh putri ketiganya yg sudah berusia 20 th.

Learning point : seorang ayah harus berani menancapkan memory kuat ke anak yang sudah aqil baligh, untuk tidak takut menanggung resiko, dan berani mengatakan benar meskipun itu pahit.

c. Pak Bambang dalam kondisi diborgol, di mobil yang penuh dg tim bareskrim, meminta anak perempuannya untuk duduk di pangkuan dia dan ikut sampai ke Bareskrim

Learning point : Dalam kondisi seburuk apapun, imam keluarga tetap bertugas menjaga iman dan kehormatan diri, anak, dan keluarganya.

d. Selama ditahan di bareskrim anak perempuannya setia mendampingi, justru muncul percakapan antara ayah dan anak ttg pra peradilan, proses tersangka dan proses hukum lainnya.

Learning point : seorang imam keluarga selalu memaknai semua moment baik indah maupun buruk, sebagai moment belajar untuk anak dan istrinya.

e. Saat anak dan istrinya ditanya wartawan, terlihat tegar, dan mengatakan "ini konsekuensi dari pekerjaan ayah"

Learning point: seorang imam keluarga harus mendidik anak dan istrinya menjadi pribadi yg tangguh, mendidik mereka agar bisa mandiri dan siap dengan segala kemungkinan

f. Pak Bambang tidak mau makan dan minum makanan dari Bareskrim

Learning point : seorang imam keluarga wajib memiliki "skeptical thinking" tidak mudah percaya, walaupun berada dalam tekanan.

g. Pak Bambang tadi pagi, jam 4.15 akhirnya sampai rumah dan bertemu dg anak dan istrinya. Kemudian yg beliau lakukan mencium kening anak dan istri, berganti baju koko, dan mengajak anak laki-lakinya jamaah sholat subuh di masjid.

Learning point : apapun kondisinya, seorang imam keluarga akan fokus pada masa depan, tidak terbelenggu dg masa lalu, segera "move on" melakukan peluang pahala berikutnya, terlebih dlm meninggalkan jejak pengalaman untuk anaknya.

Selama misi hidup seseorang belum selesai, yakinlah pasti Allah akan selalu memberikan tantangan untuk menaikkan kelas derajat hidupnya dan keluarganya.

Allah tidak akan membebani hambaNya, melainkan sesuai dg kemampuannya.

Pak Bambang yang ahli hukum dan sangat peduli pada keluarganya pasti akan mendapatkan tantangan hidup di kedua hal itu tidak mungkin yang lainnya.

Apa materi hidup yg sedang anda kuasai saat ini?, siapkan diri dan keluarga unt mendapat soal ujian di bidang tersebut.

Latih menjadi sosok yang tangguh mulai hari ini, karena tangguh itu menular

Happy weekend

Thursday, January 22, 2015

MEMBELA HIDUP

Bacaan: 1Yohanes 3:10-23 NATS: Jangan membunuh (Keluaran 20:13) Orang-orang Yahudi mengerti betul bahwa perintah Allah untuk tidak membunuh mengacu pada tindakan mencabut nyawa manusia dengan kedengkian. Perintah itu tidak melarang pemerintah untuk menggunakan hukuman mati atau untuk menyatakan perang. Perintah ini semata-semata berkenaan dengan moralitas pribadi. Keluaran 20:13 didasarkan pada kebenaran ilahi bahwa hidup manusia adalah suci dan bahwa kita harus melindungi dan memeliharanya. Setiap manusia memiliki citra Allah dalam dirinya. Bahkan janin telah ditandai dengan sebuah identitas khas sejak terjadinya pembuahan. Hidup adalah anugerah Allah yang sangat berharga, dan hanya Dia yang berhak mengambilnya. Aborsi, euthanasia, dan bunuh diri yang dibantu oleh dokter, semuanya harus dipandang dalam terang hak Allah atas hidup kita. Yesus memberikan perintah ini kepada setiap orang saat Dia berkata bahwa jika kita marah kepada seseorang tanpa alasan yang jelas, hukuman yang kita terima sama dengan hukuman bagi pembunuh (Matius 5:21,22). Dan Yohanes menulis, "Setiap orang yang membenci saudara seimannya, adalah pembunuh manusia" (1Yohanes 3:15). Hal ini menjadikan kita semua pembunuh yang membutuhkan pengampunan dan belas kasihan Allah. Terima kasih, Tuhan, atas kasih dan pengampunan-Mu. Tolonglah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk mengasihi orang lain seperti Engkau telah mengasihi kami. Dan dengan berbuat demikian kami menghargai hidup, melindungi hidup, dan memperkaya hidup sebagai sebuah anugerah dari-Mu -DJD KEMARAHAN MEMBAWA KITA LEBIH DEKAT DENGAN BAHAYA

IMAN MENGARAHKAN KITA PADA KEMAHAKUASAAN TUHAN, BUKAN PADA KETIDAKMAMPUAN DIRI.

Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. (Matius 8:8) Seorang anak kecil tampak kebingungan mencari bola kecilnya. Setelah beberapa waktu mondar-mandir tanpa hasil, ia secara spontan berdoa, "Tuhan, tolong temukan bolaku." Bola itu tadi menggelinding menuruni jalan di depan rumah. Setiap orang di rumah telah berusaha ikut mencarinya, tetapi tidak ada yang menemukannya. Keesokan harinya, anak itu melompat-lompat kegirangan sambil bersorak, "Mama, Yesus telah membawa kembali bolaku!" Sang ibu menengok dari jendela dan melihat bola itu tergeletak di atas rumput. Bagaimana mungkin bola itu bisa ada di sana? Tidak ada yang tahu. Tetapi, anak kecil itu merasa Yesus tidak terlalu sibuk untuk mendengarkan permintaannya. Perwira dalam bacaan hari ini mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan Sang Penguasa alam semesta, dan ia menyadari bahwa dirinya hanyalah bawahan yang harus taat dan percaya pada apa yang dikatakan tuannya. Ketika Yesus mengatakan bahwa Dia akan datang ke rumahnya dan menyembuhkan hambanya yang sakit itu, perwira itu buru-buru berkata, "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh" (ay. 8). Yesus memuji iman perwira ini sebagai iman yang besar. Iman yang sederhana, namun sangat bermakna. Pengakuan tentang siapakah Yesus Kristus dalam hidup kita dan kepercayaan kita pada apa saja yang sanggup dilakukan-Nya, itulah iman! Iman yang sederhana ini akan memengaruhi sikap dan keyakinan kita kepada-Nya bahwa apa saja yang Dia katakan pasti terlaksana! IMAN MENGARAHKAN KITA PADA KEMAHAKUASAAN TUHAN, BUKAN PADA KETIDAKMAMPUAN DIRI.

Tuesday, January 20, 2015

Orang Pintar, Orang Bodoh

"Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnya tidak ada satupun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya 1 ide, dan itu jadi kenyataan." - Bob Sadino "Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif." - Bob Sadino "Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar." - Bob Sadino "Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu." - Bob Sadino "Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat. Saya nggak pernah mikir.. melangkah saja, ngapain mikir kan cuma selangkah." - Bob Sadino "Orang goblok itu nggak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah." - Bob Sadino

HIDUP BERGANTUNG KEPADA TUHAN BERARTI HIDUP BERDASARKAN IMAN, BUKAN BERGANTUNG PADA YANG LAIN.

Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN. (2 Tawarikh 20:4) Tatkala serdadu Arab (Sarasin) telah mendarat di jazirah Andalusia (Spanyol), komandannya memerintahkan agar perahu-perahu mereka dibakar semua. Apa alasannya? Agar, seandainya para prajurit terdesak oleh musuh, mereka tidak lari kembali ke perahu tersebut dan melarikan diri. Jadi, para prajurit itu hanya punya pilihan: maju terus, entah menang entah kalah. Sepasukan laskar besar dari Edom menyerang kerajaan Yehuda. Ketakutan melanda seluruh negeri termasuk Yosafat, raja kerajaan itu. Yosafat sadar ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghalau musuh yang tiba-tiba menyerang itu. Ia terjepit dan tidak berdaya. Dalam suasana sangat mencekam itu, Yosafat mengambil keputusan yang tepat: mencari Tuhan! Ia mengajak seluruh rakyat Yehuda untuk berpuasa dan berseru meminta pertolongan Tuhan. Dan Tuhan, yang mendengar seruan doa itu, menyampaikan pesan melalui Yahaziel:"Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah" (ay. 15). Acap kali Tuhan dengan sengaja melenyapkan hal-hal yang selama ini menjadi andalan kita. Tuhan menghendaki agar kita hanya berharap dan mengandalkan pertolongan-Nya. Harta kekayaan, bakat, talenta, kecakapan, kepandaian, dan relasi yang kita anggap kuat, bisa jadi tempat kita bergantung seperti 'perahu Sarasin' itu. Sekali waktu, Tuhan mungkin akan membakar habis semua andalan kita itu dengan maksud agar kita hanya bergantung sepenuhnya kepada pertolongan-Nya.

Monday, January 19, 2015

Kesatuan Dalam Keluarga

Unity atau kesatuan dalam Kristus adalah hal yang indah jika dilakukan dalam kehidupan keluarga. Dalam bahas Indonesia kesatuan sama artinya dengan searah, sehaluan, seia sekata, sejalan, sependapat, sepikiran. Perjalanan keluarga kami sudah hampir 10 tahun kami jalani dengan satu prinsip berjalan dalam kesehatian dan kesatuan.  Pada saat akan memulai kehidupan satu keluarga  saya melamar istri saya untuk menikah, kami membuat kesepakatan bersama bagaimana kami akan memulai hidup berkeluarga. Saya dan istri sama sama sepakat seia sekata untuk saling mencintai dan sepikiran untuk saling menerima masing-masing pasangan  kami diri kami apa adanya.Memulai kehidupan satu keluarga, kondisi kami sangatlah tidak mudah.  Buat saya yang pada saat itu dengan kondisi ekonomi yang minim merupakan suatu tantangan berat. Pada saat melamar istri saya pada kondisi tidak sedang punya pekerjaan dan nominal uang di kantong yang hanya beberapa puluh ribu rupiah.  Banyak hal yang menjadi tantangan dan halangan pada saat kami akan memulai hidup berkeluarga, dan juga kendala-kendala yang terjadi rasanya mustahil buat pikiran manusia kami, apakah akan sanggup dan berhasil menjadi satu keluarga. Ceritanya terlalu banyak dan panjang jika dituangkan jadi skrip sinetron, bisa menjadi ratusan episode.Namun saya punya keyakinan jika kami sudah sepakat dan sehati untuk memulai  satu keluarga, dan menyerahkan kesepakatan tersebut kepada Tuhan yang Maha Kasih, maka segala kesulitan dan tantangan yang ada akan dibukakan jalan oleh Tuhan. Bagian kami adalah sehati dan sepakat , selanjutnya bagian Tuhan akan berkarya buat segala sesuatunya. Di dalam Alkitab pada Matius 18:19 tertulis : " Dan lagi aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di Surga.Perjalanan yang kami alami bukanlah suatu jalan yang lurus dan mulus, sering kali kami juga melalui kondisi yang bergelombang dan mengguncang kehidupan. Namun pemeliharaan Tuhan tetap kami rasakan karena kami senantiasa menjalaninya dengan tetap sehati dan sejalan. Dalam semua hal kami selalu upayakan melakukannya dalam kesehatian. Misalnya dalam menentukan gereja untuk kami berjemaat, memilih pekerjaan yang saya lakukan, memilih rumah yang akan kami tempati dan hal lain selalu kami lakukan berdasarkan kesepakatan antara saya dengan istri.Kami sekeluarga senantiasa mengandalkan Tuhan Yang Ajaib yang telah memelihara kehidupan kami sedemikian indahnya, bahkan mengangkat kami sedemikian dahsyat, semua karena anugeraNya yang menjadikan kehidupan kami  seperti saat ini. Di dalam Tuhan ada masa depan yang pasti dan berkelimpahan dalam kebaikan.God is Good!